Mengenai Saya

Foto Saya
secuil kehidupan dengan segala ketidak jelasannya.Bersahabat dengan salah satu elemen kehidupan yang berupa air.gemar lantunan gugusan kecambah berirama.kemudian bergerak di ambang batasnya.menjadikan ketidakpastian sebagai hal terpasti mengenai dirinya.dan tidak akan menutup diri terhadap apapun.

Minggu, 11 Januari 2009

mengapa Soeharto dituduh sbg dalang G/30/S/PKI?

Salah satu hal yang sering dipergunjingkan tentang tragedi G 30/S/PKI adalah mengenai siapa dalang dari peristiwa tersebut. Banyak pendapat yang muncul atas pertanyaan tersebut. Setelah lengsernya Soeharto, banyak pihak menyatakan bahwa sebenarnya Soeharto lah dalang dari peristiwa tersebut.Namun tak akan ada asap bila tak ada api. Soeharto tidak akan dituding sebagai dalang G/30/S/PKI apabila tidak ada fakta-fakta yang mendukung pendapat tersebut.
Cerita yang beredar tentang tragedi G/30/S/PKI versi Soeharto menerangkan bahwa pada malam tanggal 30 September pukul 21.00 Soeharto beserta istrinya, berada di Rumah Sakit Gatot Subroto untuk menengok anak bungsunya, Tomy Soeharto yang tersiram air panas. Kira-kira pukul 22.00 Soeharto sempat menyaksikan Kolonel Latief berjalan di depan zaal dimana Tomy dirawat. .Pada pukul 00.15 Soeharto meninggalkan rumah sakit. Kira-kira pukul setengah lima pagi tanggal 1 Oktober, ia kedatangan seorang kameraman TVRI bernama Hamid. Hamid memberi tahu bahwa ia mendengar suara tembakan di beberapa tempat. Tetangga nya juga mengabarkan mendengar suara tembakan bertubi-tubi. Kemudian datang Broto Kusmardjo dan melaporkan kabar yang ia akui cukup mengagetkan yaitu mengenai penculikan beberapa Pati Angkatan Darat. Pukul enam pagi Letkol Sadjiman datang atas perintah Umar Wirahadikusumah. Ia melaporkan bahwa di sekitar Monas dan Istana banyak pasukan yang tidaj dikenalnya. Soeharto pun langsung bertolak menuju Markas Kostrad. Saat ia melewati Monas, ia mengaku melihat sendiri prajurit-prajurit yang berjaga di sekitar Monas. Di gedung Kostrad ia mendapat Laporan bahwa Bung Karno tidak jadi ke istana, tetapi langsung menuju Halim.
Pukul 07.00, Soeharto mendengarkan siaran RRI yang menyiarkan Gerakan 30 September yang dipimpin oleh Letkol Untun. Pada saat itu ia mengau kaget dan lansung teringat bahwa Letkol Untung adalah orang yang dekat dan sering melakukan rapat dengan PKI. Bahkan menurutnya Letkol Untung pernah menjadi didikan tokoh PKI, Alimin.
Pada saat itu Soeharto langsung mengambil tindakan pertama yaitu menyelamatkan batalyon yang dilibatkan dalam petualangan oleh Letkol Untung. Pada saat itu Letkol Alo Murtopo dan Brigjen Sabirin Mochtar melapor pada Soeharto bahwa Danyon 454 dan Danyon 530 tidak ada di tempat. Kemudian ia memerintahkan Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin untuk menyuruh Wadanyon 454 dan 530 menghadap padanya. Setelah Wadanyon-wadanyon tersebut datang, Soeharto menanyai apa tugas mereka. Nyaris serempak mereka menjawab mereka bertugas mengamankan presiden karena akan ada kup dari Dewan Jenderal. Soeharto sedikit kaget mendengar kata ’kup Dewan Jenderal’. Kemudian ia memberikan keterangan pada Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin bahwa pada saat itu Presiden Soekarno tidak berada di istana. Selain itu ia menegaskan bahwa tidak ada Dewan Jenderal. Yang ada adalah Wanjakti dan tidak mungkin ada rencana kup karena ia sendiri adalah anggota Wanjakti. Ia yakin gerakan Letkol Untung didalangi oleh PKI. Ia menganggap hal ini sebagai sebuah pemberontakan. Maka ia memutuskan untuk menghadapinya. Kemudian ia memerintahkan kedua Wadanyon untuk menyampaikan sarannya kepada seluruh anggota kesatuan mereka serta kepada komandan batalyon mereka. Dengan demikian Soeharto telah melucuti kekuatan Untung secara halus.
Pukul 09.15 ia mengadakan rapat staff. Dalam rapat itu ia memberikan penjelasan mengenai situasi dan siaran RRI pukul tujuh pagi itu. Ia menegaskan bahwa ia mengenal benar Letkol Untung. Ia menjelaskan pikirannya mengenai pernyataan Letkol Untung bahwa gerakannya seolah-olah hanya untuk menghadapi apa yang dikatakan Dewan Jenderal yang akan mengadakan kup sehingga mereka mendahului bertindak dengan menculik para pimpinan Angkatan Darat. Menurutnya hal ini bukan sekedar gerakan untuk menghadapi apa yang dinamakan Dewan Jenderal saja, melainkan lebih jauh untuk merebut kekuasaan negara secara paksa. Soeharto juga mengungkapkan pada para asistennya bahwa sebagai prajurit Sapta Marga seharusnya tidak hanya sekedar mencari keadilan tetapi juga seharusnya merasa terpanggil untuk menghadapi masalah ini karena yang terancam adalah negara dan Pancasila. Di akhir keterangannya ia memutuskan untuk melawannya. Ia berpendapat bahwa apabila tidak melawan ataupun menghadapinya, toh mereka akan mati konyol. Jadi akan lebih baik apabila mereka mati membela negara dan Pancasila.
Setelah Maghrib satuan RPKAD berangkat menyerang RRI dan TELKOM dipimpin Kapten RPKAD Heru dan Kapten Urip. Sementara Kolonel Sarwo Edhie menunggu di halaman Kostrad. Pasukan tersebut memasuki RRI dan gedung pusat TELKOM tanpa perlawanan. Menurut perkiraannya Anak buah Letkol Untung telah melarikan diri. Setengah jam kemudian Kolonel Sarwo Edhie menerima laporan radio bahwa RRI sepenuhnya telah dikuasai. Gedung TELKOM waktu itu dijaga ileh Pemuda Rakyat yang mengira bahwa pasukan yang datang adalah rekannya sesama pemberontak sehingga dengan mudah Pemuda Rakyat itu dapat dilucuti senjatanya.
Soeharto merasa cukup lega karena tidak sebutir peluru pun dilepaskan. Lalu Brigjen Ibnu Subroto dengan beberapa orang menuju RRI dengan membawa rekaman pidato Soeharto . Pidato tersebut berisi tentang penjelasan peristiwa G/30/S dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan waspada. Lewat pidato itu pula ia menjelaskan bahwa ia adalah Pimpinan Sementara Angkatan Darat. Pada pukul tujuh tepat siaran pidato tersebut dikumandangkan.
Selain itu, pada masa orde baru beredar pula film tentang pengkhianatan PKI yang disutradarai Arifin C. Noer. Dalam film tersebut hal yang paling ditonjolkan adalah adegan penyiksaan terhadap enam Jenderal. Dalam durasi yang cukup lama penonton disuguhi dengan adegan menyilet, menyudut, dan mencungkil mata pahlawan revolusi. Penyiksaan dilakukan sambil menari-nari dan menyanyi.
Kabarnya film tersebut memang dibuat dari satu sudut pandang. Pada saat itu, tim periset film melakukan wawancara kepada Soeharto yang kala itu adalah Presiden RI, selama berbulan-bulan. Adegan penyiksaan yang ada dalam film tersebut pun dibuat sesuai dengan hasil wawancara dan koran-koran pemerintah saat itu.
***
Pasca tergulingnya orde baru, mulai bermunculan pendapat-pendapat dan kesaksian tentang tragedi G/30/S/PKI yang menyudutkan Soeharto. Pada akhrinya, beberapa orang menyimpulkan Soeharto adalah dalang dari tragedi tersebut. Salah satu hal yang peling mendukung pendapat ahwa Soeharto lah dalang dibalik peristiwa tersebut adalah kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan dalam cerita tentang tragedi G/30/S/PKI menueut Soeharto (versi Orba) .
***
Pada tanggal 21 September 1965, Kapten Soekarbi mengaku menerima radiogram dari Soeharto yang isinya perintah agar Yon 530 dipersiapkan dalam rangka HUT ABRI ke-20 pada tanggal 5 Oktober 1965 di Jakarta dengan perlengkapan tempur garis pertama. Setelah persiapan, pasukan diberangkatkan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 25,26, dan 27 September.
Pada tanggal 28 September pasukan diakomodasikan di kebun Jeruk bersama dengan Yon 454 dan Yon 328. Tanggal 30 September seluruh pasukan melakukan latihan upacara. Pukul tujuh malam semua Dan Ton dikumpulkan untuk mendapatkan briefing dari Dan Yon 530, Mayor Bambang Soepono. Dalam briefing tersebut disebutkan bahwa Ibu kota Jakarta dalam keadaan gawat. Ada kelompok Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan RI yang sah. Briefing berakhir pada pukul 00.00. Pukul dua pagi tanggal 1 Oktober, Kapten Soekarbi memimpin sisa Yon 530 menuju Monas. Di kompleks Monas mereka berkedudukan di depan istana. Pada saat itu, karena kedudukan mereka dekat Makostrad, pasukan pun sering keluar masuk Makostrad untuk ke kamar kecil. Karena tidak ada teguran dari Kostrad, berarti Kostrad tahu bahwa mereka ada di sana.
Pukul setengah delapan Kapten Soekarbi melapor pada Soeharto tentang keadaan ibu kota yang gawat serta adanya isu Dewan Jenderal. Namun Soeharto menyangkal berita tersebut.
Kapten Soekarbi sendiri mengaku tidak mengetahui terjadinya penculikan para Jenderal. Ia tetap merasa aman karena Pangkostrad Soeharto telah menjamin keadaan tersebut. Namun ia berpendapat bahwa Soeharto pasti lah tahu tragedi penculikan para Jenderal tersebut. Karena pada tanggal 25 September Kolonel Latief telah memberikan masukan tentang keadaan yang cukup genting tersebut kepada Soeharto. Jadi sebenarnya mustahil apabila Soeharto tidak mengetahui tragedi tersebut.
Yang patut dipertanyakan lagi adalah mengapa Soeharto tidak melakukan pencegahan terjadinya tragedi tersebut. Kebiasaan dalam militer, apabila ada gerakan yang disinyalir akan membunuh atasan akan langsung dicegah. Namun kenyataanya Soeharto tidak sedikit pun mengambil sikap. Padahal apabila ditelusur ia sangat mampu mencegah kejadian tersebut. Pada saat itu, mereka sedang mempersiapkan HUT ABRI. Kostradlah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara tersebut. Jadi semua pasukan di Jakarta berada di bawah kendali Kostrad. Seharusnya Soeharto bisa memerintahkan pasukan untuk mencegahnya.
Dalam cerita versi Soeharto dan Orde Baru disebutkan terdapat pasukan liar di sekitar Monas. Kesaksian Kapten Soekarbi juga mematahkan pernyataan tersebut. Soeharto sendiri yang mengirimkan radiogram pada Kapten Soekarbi untuk mendatangkan pasukannya ke Jakarta. Tentunya ia mengenali pasukan siapa yang berada di Monas kala itu. Kostrad pun mengetahui kehadiran Yon 530. Namun pada kenyataannya Soeharto membiarkan pernyataan yang mengatakan bahwa terdapat pasukan liar pada saat itu.
***
Kejanggalan lain tampak dalam beberapa pengakuan Soeharto adalah pengakuan dan perkiraannya tentang kedatangan Kolonel Latief saat menjengu anaknya, Tomy Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dalam versinya ia hanya mengaku hanya melihat Kolonel Latief di zaal dimana anaknya dirawat. Namun kejadian yang sebenarnya adalah mereka sempat berbincang-bincang. Pada saat itu Kolonel Latief melaporkan bahwa besok pagi akan ada tujuh jenderal yang akan dihadapkan pada presiden. Namun pada saat itu Soeharto tidak bereaksi. Ia hanya menanyakan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Tapi dari hasil wawancara Soeharto dengan seorang wartawan Amerika, ia mengatakan”.......Kini menjadi jelas bagi saya, bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukan untuk menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rpanya ia hendak membuktikan kebenaran berita , sekitar sakitnya anak saya, ......”.Sedangkan dalam majalah Del Spiegel (Jerman Barat) Soeharto berkata.”Kira-kira jam 11 malam itu, Kolonel Latief dan komplotannya datang ke Rumah Sakit untuk membunuh saya, tetapi tampaknya ia tidak melaksanakan berhubung kekhawatirannya melakukan di tempat umum.” Dengan demikian ada tiga versi yang dikeluarkan oleh Soeharto sendiri tentang pertemuannya dengan Kolonel Latief. Hal ini sangat lah memancing kecurigaan bahwa Soeharti hanyalah mencari alibi untuk menghindari tanggung jawabnya.
***
Penyajian adegan penyiksaan ke enam jenderal dalam film G/30/S/PKI ternyata juga dapat digolongkan sebagai salah satu kejanggalan cerita versi Soeharto. Serka Bungkus adalah anggota Resimen Cakrabirawa. Pada saat itu ia mendapat tugas ”menjemput” M.T Haryono. Ia turut menyaksikan pula penembakan keenam Jenderal di Lubang Buaya. Ia menyatakan bahwa proses pembunuhan keenam Jenderal tidak melalui proses penyiksaan seperti pada film G/30/S/PKI. Satu per satu Jenderal dibawa kemudian duduk di pinggir lubang setelah itu ditembak dan akhirnya masuk ke dalam Lubang. Serka Bungkus mengetahui adanya visum dari dokter yang menyatakan tidak ada tindak penganiayaan. Namun sepengetahuannya Soeharto melarang mengumumkan hal itu.
Selain itu salah satu dokter yang melakukan visum, Prof. Dr. Arif Budianto juga menyatakan bahwa tidak ada pelecehan seksual dan pencongkelan mata seperti yang ditayangkan dalam film. Memang pada saat dilakukan visum ada mayat dengan kondisi bola matanya ’copot’. Tapi hal itu terjadi karena sudah lebih dari tiga hari terendam bukan karena dicongkel paksa. Karena di sekitar tulang mata pun tidak ada bagian yang tergores.
Tentu kita tidak dapat menduga-duga apa tujuan dan motif Soeharto menyembunyikan hasil visum. Dalam hal ini ia terkesan ingin memperparah citra PKI agar dugaan bahwa PKI lah yang ada di belakang tragedi ini semakin kuat. Kebencian masyarakat pada PKI pun akan memuncak dengan melihatnya.
***
Satu hal yang paling menjadi kontroversi dari tragedi tersebut adalah banyaknya orang-orang yang dituduh mendukung PKI dan pada akhirnya dijebloskan ke penjara. Antara lain adalah Kolonel Latief, Letkol Heru Atmodjo, Kapten Soekarbi, Laksda Omar Dani, Mayjen Mursyid, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka ditahan tanpa melalui proses peradilan. Orang- orang tersebut kebanyakan mengetahui bagaiman sebenarnya hal itu terjadi. Seperti contohnya Kapten Soekarbi. Ia ditahan setelaha membuat laporan tentang kejadian yang ia alami pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965. Penahanan tanpa proses peradilan ini dapat disinyalir sebagai sebuah upaya yang dilakukan Soeharto agar saksi-saksi kunci tidak dapat menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada khalayak. Ketakutan yang dialami Soeharto ini tentunya justru semakin memperkuat anggapan bahwa dialah dalang di balik peristiwa G/30/S/PKI.

15 komentar:

  1. sumbernya dari mana nih? wahhh.. inspirasimu...

    BalasHapus
  2. banyak yang melupakan bahwa Kejadian G30S itu terjadi juga di Jogja dimana terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap dua pejabat teras Danrem 072/Pamungkas yaitu Danrem Kol. Katamso dan Kasrem Letkol Sugiyono.

    Yang terjadi di Jogja jelas2 sebuah usaha perebutan kekuasaan dengan cara menghabisi pimpinan militer Jogja dan secara sepihak mendirikan Dewan Revolusi Jawa Tengah yang didukung oleh orang2 PKI.


    mengenai kesaksian ex Serka Bungkus pun dengan mudah dipatahkan.

    ex Serka Bungkus mengatakan bahwa tidak ada penyiksaan terhadap para korban, semua korban dibawa dengan baik ke pinggir sumur lalu ditembak, semua hening hanya terdengan suara kokok ayam dan tangis bayi..

    coba bandingkan dengan ini:
    kesaksian Agen Tk. II (prajurit dua, pangkat paling rendah) Polisi Sukitman, pengawal Guest House yang tetanggan dengan rumah D.I Panjaitan yang ikutan ditangkap oleh pasukan penculik D.I Panjaitan.
    seorang prajurit rendah yang tidak tahu apa2 pun mengatakan bahwa suasana saat itu mencekam dan menakutkan, bahkan sakit menakutkannya dianalogikan olehnya "seandainya saya disilet, mungkin tidak akan keluar darah (saking pucatnya)".
    Dia mendengar teriakan2 "ganyang kabir", lalu "yani wis dipateni" (yang dia sendiri ngga tau apa maksut dan artinya karena dia sendiri adalah orang sunda)

    lalu saat pengadilan ex mayor Gatot sukrisno (komandan pasukan pringgondani, yaitu pasukan cadangan di lubang buaya tempat terjadinya peristiwa pembunuhan) yang mengakui bahwa sebenernya Lettu Pierre Tendean sudah diketahui bahwa dia bukan jenderal Nasution dan berencana untuk dilepaskan, namun karena kondisinya sudah parah, maka akhirnya dia ikut dihabisi.
    Seandainya memang tidak terjadi penyiksaan, kenapa Lettu Tendean tidak dilepaskan, padahal diakui sendiri bahwa mereka sudah tau bahwa itu bukan jenderal nasution.

    BalasHapus
    Balasan
    1. berapa banyak jendral zaman suharto yang berbohong bahkan dengan nama allah demi keamanan dan kenyamanan, apalagi prajurt dgn pangkat terendah sangat mudah utk di atur suharto. hal kecil gk bisa jadi alasan membenarkan kobohongan yg sudah didoktrinkan puluhan tahun. yg bisa dijadikan argumen adalah data garis besar yg tak terbantahkan seperti radiogram soeharto diatas

      Hapus
  3. makasih...
    ternyata gitu tuh cerita yang selama ini ga pernah diajarkan oleh guru sekolah maupun buku-buku pelajaran.

    setidaknya polemik seperti ini harus lebih disebarluaskan lagi ya...

    ogh ya... ada juga polemik G30S/PKI ini dengan beberapa versi, seperti:
    1.Soekarno
    2.Soeharto
    3.PKI
    4.Konspirasi AD dgn Inggris
    5.Perpecahan dalam AD
    6.Campur tangan CIA

    cman informasi 4-6 blumt dapet.

    makasih...
    informasinya keren

    BalasHapus
  4. cukup bagus OCHA, tapi andai (untuk menghilangkan tendensi subjektif) bisa ditampilkan pula dari sisi lainnya, termasuk dari keluarga Suharto, Soekarno, korban, pelaku, dll.
    sehingga pembaca bisa menilai sejarah secara objektif.
    lumayan sih, untuk referensi sejarah

    BalasHapus
  5. Mungkin ada tambahan nie dari saya yang bisa meyakinkan Soehartolah Dalang G30S PKI:

    Bagaimana mungkin PKI yang merupakan Partai Politik mampu membunuh para Jenderal AD sementara saya lihat pengawalan seorang Jenderal itu sangat ketat bahkan saya berpikir membunuh Prajurit Tentra biasa saja bukan hal yang mudah karena mereka punya keterampilan dalam berperang dan jangan lupa mereka di bekali Senapan Serbu, apalagi seorang Jenderal sudah bisa di bayangkan.
    Bagaimana mungkin Soeharto yang merupakan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (KOSTRAD) tidak menjadi sasaran gerakan G30S PKI, perlu di ingat KOSTRAD merupakan kekuatan inti komando mandala dalam tugas oprasi trikora, posisinya sangat berbahaya jika tidak di lenyapkan.
    Soeharto pernah mengakui bahwa pada malam 30 September 1965 sehabis pulang dari rumah sakit dia melihat kumpulan prajurit berseragam dan bersenjata lengkap, dia kemudian pulang kerumah dan tidur katanya dan tidak menghiraukan mereka, ini pengakuannya sendiri loh kepada wartawan, saya berpikir ko aneh ya kenapa tidak menemui mereka dia kan Jenderal, sementara dia tau pada saat itu tidak ada tugas Pengawalan atau apapun sedang apa mereka kalo menurut saya.
    Sebelum 30 September 1965 Soeharto mendatangkan prajurit di bawah kendalinya dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur secara besar-besaran ke Jakarta yang katanya untuk memperingati hari ABRI tanggal 5 Oktober 1965 padahal mereka di datangkan sebelum 30 Oktober 1965 (Mereka ini lah nantinya yang membantai semua PKI di jakarta), saya berpikir kalo memperingati hari Abri ngapain jauh-jauh sebelum tanggal 30 September 1965 sedangkan hari ABRI itu tanggal 5 Oktober.
    Di dalam buku sejarah dan juga banyak saksi hidup mengatakan bahwa pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 para prajurit di bawah kendali Soeharto sudah bersiap-siap di sekitar monas dan bersenjata lengkap sementara pada saat itu tidak ada tugas pengawalan atau semacamnya, pikiran saya pribadi Bagaimana mungkin Soeharto mengirimkan prajuritnya pagi-pagi sekali di sekitar monas dengan bersenjata lengkap kalo dia tidak tahu bakal terjadi G30S PKI, sedangkan pada saat itu kan alat komunikasi terbatas, mana ada yang punya HP.
    Bagaimana mungkin Soeharto bisa langsung mengetahui bahwa pelaku G30S PKI itu di dalangi PKI sementara dia mengakui sendiri bahwa pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi dia baru bangun tidur.
    Mengapa Soeharto menuduh Bung Karno dan Kabinetnya terlibat dalam G30S PKI yang katanya ingin melakukan KUDETA (Pengambil Alihan Kekuasaan yang Syah) sementara pada saat itu kan Bung karno adalah Presiden seumur hidup dan merupakan Pemimpin Besar Revolusi, pandangan orang bodoh seperti saya adalah Bagaimana mungkin seseorang Mengkudeta dirinya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maap anda dpt fakta atau itu menurut dugaan anda sendiri..yg bermain dblakang itu adalah PKI

      Hapus
  6. menurut saya ceritanya mirip dengan film Valkrie, atau mungkin memang seperti itu >:)

    BalasHapus
  7. Soeharto dijaman Revolusi sudah merupakan Soeharto yang culas (wilson obrigados, orang-orang berlawan)

    BalasHapus
  8. waduhh panjang ceritanya
    Padahal ane males baca wkwkwk

    tapi yang pasti
    Soeharto bener dalang dari g30s PKI
    Dia memerintah Kopasus untuk membunuh Jendral-jendral/ pahlawan Revolusi, dan memfitnah PKI yang membunuh pahlawan pahlawan revolusi
    Padahal PKI tak tahu apa-apa.
    Emang bener-bener ahli strategis.
    Kaya filmnya Valkrie dan XXX The Next Level.

    Ohh ya, ane mau download video acara nya KICK ANDY yang pas anak/cucu dari pahlawan revolusi dan PKI nyeritain tentang g30s PKI
    ada yang tau gak link nya???

    BalasHapus
    Balasan
    1. org peristiwanya tdk hny di jakarta di jogja faktnya pun jendral2 itu jg ada yg dibunuh PKI..anda bilang PKI gk tau apa2 wakowakokwkwkw lucu brooo..namnya partai komunis di mana pun jg targetnya jelas merebut kekuasaan dan mendirikan negara komunis..jelas saja mereka bicara PKi tdk terlibat itu mereka hendak cuci tangan

      Hapus
  9. klo memang anda memfitnah soehato..berikan bukti fakta sejarah yg benar2 dipercaya bukan krn dugaan sementra..dalang G30s/PKI adalah PKI itu sendiri....sudah rahasia umum dari dlu PKI hendak merebut kekuasaan...fakta di bunuh nya sejumlah jendral adi daerah jogja(kemusuk) jg bukti tidak terbantahkan klo PKI memang hendak merebut kekuasaan..krn hny 7 jendral itu yg punya pengaruh kuat di lingkaran istana,

    BalasHapus
  10. SALAH SATU DOKTRIN AJARAN PKI ADALAH PEREBUTAN KEKUASAAN DG KEKERASAN ..itu mmg udah doktrin jd dimana2 komunis pasti ada pertumpahan darah

    soal suharto terlibat itu sngt subyektif krn dilihat dari skenario sisi siapa yg menceritakn ..tp pahami dl bahwa perebutan kekuasaan dg kekerasan itu adalh doktrin ajaran KOMUNIS

    BalasHapus
  11. wahhh seru nih,,, ikutan yah,,,
    kalo menurut saya, setelah membaca tragedi ini ( dr berbagai sumber). suharto tidak terlibat langsung dlm rencana kudeta PKI, dan bukanlah "dalang" dlm tragedi (pembantaian dewan jendral) ini. namun secara pasti soeharto mengetahui rencana ini sebelumnya dan memanfaatkan situasi itu untuk mengambil alih kekuasaan secara tidak langsung. dalang tragedi pembantaian ini (menurut saya) adalah PKI dan para perwira menengah yg termakan isu "dewan jendral" dr mulut petinggi PKI.

    BalasHapus